Aside

TAPAK-TAPAK AWAL DARI RENCANA PERJALANAN PANJANG

(Catatan Kegiatan Mitra Samya dan Masyarakat di Kawasan Mareje Bonga*)

Mengapa Mitra Samya ada di kawasan Mareje Bonga

Kawasan Mareje-Bonga adalah kawasan hutan seluas 3.300 Ha yang berada di bagian selatan Kabupaten Lombok Tengah Propinsi Nusa Tenggara Barat yang meliputi 3 wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Praya Barat Daya di ujung barat, Kecamatan Praya Barat di bagian tengah dan Kecamatan Pujut di ujung timur.
Ada 13 wilayah desa yang berbatasan langsung dengan desa kawasan ini yaitu Desa Batu Jangkih, Montong Sapah, Montong Ajan, Kabul dan Pandan Indah (Kecamatan Praya Barat Daya), Desa Bonder, Mangkung, Kateng, Banyu Urip, Mekarsari dan Selong Belanak (Kecamatan Praya Barat) serta Desa Tumpak dan Pengembur (Kecamatan Pujut).


Pada tingkat kabupaten Lombok Tengah, 13 desa ini merupakan desa yang mengalami perkembangan sangat lambat. Desa ini merupakan bagian dari kantong kemiskinan yang ada. Memang cukup banyak tantangan yang dihadapi oleh masyarakat yang ada di kawasan Mareje Bonga, mulai dari keterbatasan kepemilikan lahan usaha, iklim yang kurang mendukung karena curah hujan yang rendah, ketergantungan terhadap hutan sampai pada persoalan keterbatasan kapasitas sumberdaya manusianya.
Meski banyak tantangan yang mereka hadapi, namun keinginan dan semangat untuk mewujudkan perubahan cukup kuat mereka miliki. Salah satu wujud semangat untuk menjawab tantangan yang ada diwujudkan dengan membentuk kelompok-kelompok yang mana kemudian kelompok-kelompok ini menggabungkan diri dalam satu wadah yang lebih besar yang dikenal dengan Assosiasi Mareje Bonga. Untuk memperkuat kapasitas personal dan kelembagaan serta kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan, pengurus assosiasi berusaha membangun jaringan dengan berbagai pihak. Salah satunya adalah Mitra Samya.

Apa yang Mitra Samya lakukan di Mareje Bonga ?

Sebagai bagian dari upaya mewujudkan visi dan misi, Mitra Samya berkomitmen untuk mengembangkan kawasan ini beserta desa-desa di sekitarnya. Tahun 2001, Mitra Samya melakukan kegiatan prakondisi sebagai jalan menuju ke arah pembangunan kawasan. Pada bulan Desember 2002 sampai April 2003 Mitra Samya bersama ACCESS serta Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Lombok Tengah melakukan serangkaian kajian dan lokakarya di 6 Desa (yang saat ini sudah dimekarkan menjadi 10 desa) dan merumuskan rencana pengembangan kawasan ini. Belakangan bersama Dinas Kehutanan Propinsi NTB, kajian dilanjutkan pada 3 desa lainnya untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kebutuhan pengembangan kawasan Mareje Bonga.
Terakhir, sejak pertengahan tahun 2004 hingga saat ini Mitra Samya bersama ACCESS dan Pemda Kabupaten Lombok Tengah sedang mengintroduksikan Pengintegrasian Community-Led Assesament and Planning Process yang gender and poverty Inclusive (CLAPP-GPI) dalam Perencanaan Desa.
Introduksi ini selain untuk mengintegrasikan aspek-aspek community-led, community control, serta gender and poverty inclusive dalam perencanaan desa, juga dimaksudkan untuk mengintegrasikan rencana pengelolaan sumberdaya alam dalam perencanaan desa.
Secara umum, kegiatan yang dilakukan oleh Mitra Samya lebih difokuskan pada upaya penguatan kapasitas masyarakat, organisasi masyarakat dan juga aparatur pemerintahan desa dan kecamatan. Dengan penguatan kapasitas ini diharapkan masyarakat dan pemerintahan desa mampu mengidentifikasi potensi-potensi yang dimiliki untuk dikembangkan, mampu menyusun perencanaan dengan landasan utama potensi yang dimiliki, melaksanakannya serta melakukan kontrol atas proses dan hasil pembangunan. Disamping itu juga diharapkan tumbuhnya rasa keberpihakan terhadap masyarakat miskin dan keadilan gender.

Apa hasil kerja yang dilakukan Mitra Samya bersama masyarakat?

Beberapa bentuk kegiatan yang dilakukan mulai menampakkan hasil yang cukup menggembirakan meski banyak pula yang perlu untuk terus dibenahi dan ditingkatkan. Beberapa hasil yang cukup menggembirakan dan dapat menjadi pembelajaran bersama misalnya :

  • Desa di kawasan Mareje Bonga telah memiliki kader-kader desa (Fasilitator Desa) yang memiliki kemampuan untuk memfasilitasi proses perencanaan pembangunan. Fasilitator desa ini tidak hanya kaum laki-laki namun juga perempuan. Bahkan fasilitator desa dari Mareje Bonga juga telah mendapat kepercayaan dari pemerintah kabupaten untuk memperkuat kapasitas masyarakat yang ada di desa lainnya.
  • Pola perencanaan pembangunan desa dengan pendekatan CLAPP-GPI (Community Led Assesment and Planing Proccess – Gender and Poverty Inclusive) yang awalnya dikembangkan di kawasan Mareje Bonga telah diadopsi oleh Pemda Kabupaten Lombok Tengah sebagai acuan dalam perencanaan pembangunan di seluruh desa dan kelurahan yang ada di Kabupaten Lombok Tengah
  • Assosiasi Mareje Bonga mulai memperoleh pengakuan dari para pihak yang ditandai dengan terbangunnya kerjasama pengembangan dan pelaksanaan program secara langsung dengan Assosiasi
  • Tumbuhnya proses pembelajaran berkelanjutan yang dilakukan oleh masyarakat, baik dalam kelompok antar kelompok dan juga antar desa di kawasan. Proses pembelajaran berkelanjutan antar pemerintah desa juga mulai berjalan melalui Forum Kepala Desa (FORKAD) kawasan Mareje Bonga yang telah dikembangkan bersama.

Dengan kenyataan masih banyaknya kekurangan dari hasil-hasil yang telah diperoleh selama ini maka membuat penilaian keberhasilan berdasarkan indikator harapan ideal tentu tidak bijak saat ini, karena pengembangan seluruh aspek kawasan ini sejak jauh-jauh hari sudah dibayangkan akan memakan waktu puluhan hingga belasan tahun. Untuk itu, yang selalu dilakukan terhadap proses dan hasil yang telah dicapai saat ini adalah mencoba untuk terus belajar dari pengalaman dan secara kontinu memperbaikinya serta memelihara keberhasilan dan capaian-capaian secara progressif.
Proses pembangunan seluruh dimensi masyarakat meniscyakan sebuah proses yang sangat kompleks dan panjang. Perubahan mental manusia sendiri membutuhkan waktu yang tidak sebentar karena berkaitan dengan perubahan budaya. Namun demikian, Mitra Samya dan Asosiasi Mareje-bonga telah bertekad untuk terus mengembangkan kawasan ini dengan melakukan apapun yang bisa dilakukan sesuai dengan kemampuan.

Apa agenda Mitra Samya bersama masyarakat Mareje Bonga selanjutnya ?

Dalam grand desain yang telah disusun masyarakat dengan fasilitasi Mitra Samya masih banyak agenda bersama yang perlu diperjuangkan. Salah satunya yaitu bagaimana masyarakat memperoleh akses dalam pengelolaan kawasan hutan dan pemanfaatan hasil hutan secara legal

Informasi lebih lengkap dapat menghubungi :
* BAGUS ARYAWA
(Koordinator Divisi PSDA Mitra Samya)

Tulisan ini pernah dimuat pada bulan November 2010 di BAKTI News.

TAPAK-TAPAK AWAL DARI RENCANA PERJALANAN PANJANG

Advertisements
By Mitra Samya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s