STUDI JKN (Jaminan Kesehatan Nasional)

Upaya perbaikan pelayanan kesehatan kepada masyarakkat ditindaklanjuti oleh negara melalui beberapa bentuk kegiatan serta program Nasional. Hal ini sejalan dengan   UU No. 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan UU No. 24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) menjelaskan rancangan menuju terbentuknya sistem jaminan sosial semesta di Indonesia.

Tujuan utama UU tersebut antara lain adalah tercapainya kepesertaan semesta jaminan kesehatan melalui skema wajib asuransi kesehatan pemerintah—Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). JKN diluncurkan Januari 2014 dengan target mencapai kepesertaan semesta di tahun 2019.

Jenis kepesertaan JKN seseorang ditentukan oleh status pekerjaan dan pendapatannya. Pemerintah menanggung premi asuransi warga miskin dan rentan miskin, sementara premi pekerja sektor formal ditanggung bersama oleh pekerja dan pemberi kerja. Kendala yang paling berat adalah pendaftaran dan keberlanjutan kepesertaan pekerja mampu di sektor informal, yang harus mendaftar dan membayar iuran sendiri dan keluarganya.

Mitra Samya bersama JPAL bekerjasama dengan BPJS -JKN yang melaksanakan kegiatan studi untuk memberikan informasi terkait dengan JKN.  dalam hal ini Mitra Samya-JPAL ingin memberikan informasi yang lebih rinci terkait dengan BPJS-JKN. asusmsi sementara masih banyak warga masyarakkat yang belum mengetahui inforasi terkait dengan JKN sehingga perlu dilakukan sosialisasi lebih inten dan menyuluruh kepada semua lapisan masyarakat.

Studi ini diawali dengan pengembangan modul “SOSIALISASI TAMABAHAN JKN.” dimana sasarannya  adalah masyarakat yang  mampu dan belum masuk dalam jaminan kesehatan baik  yang bersifat PBI seperti jamkesmas, jamkesda, maupun yang sifatnya PBU..seperti PNS, guru, Polri, TNI  dan pekerja lain ang menerima upah..

Modul sosialisasi ini dikembangkan berdasrkan 4 kombinasi utama yaitu ; WAJIB vs TERBUKA, PELAYANAN vs TANPA PELAYANAN DI DESA, ADA KADER vs TANPA KADER DI DESA DAN BONUS vs TANPA BONUS BAGI KADER DESA.  Jumlah modul yang dikembangkan oleh Mitra Samya adalah 16 Kombinasi modul.

Pengembangan  modul ini dirancang untuk dapat dipergunakan oleh siapapun yang akan memberikan informasi kepada masyarakat/warga terkait dengan program JKN.mulai dari tingkat Kabupaten sampai dengan tingkat warga masyarakat di desa..

Upaya untuk mengatahui efektifitas modul tersebut maka Mitra Samya melakukan Ujicoba metode di 4 desa di kecamatan Sidayu kabupaten Gresik Propinsi Jawa Timur.  kegiatan ujicoa ini dilaksanakan selama 10 hari efektif dengan tahapan mulai dari Kabupaten dengan stakehoders sampai dengan desa.kegiatan ujicoba modul ini dilakukan oleh 4 orang fasilitator serta didampingi oleh masing-masing supervisor.

Empat desa sebagai lokasi ujicoba modul tersebut menerapkan kombinasi modul yang berbeda-beda. pemilihan kombinasi yang akan diterapkan ditentukan secara acak oleh TIm.

secara umum  pelaksanaan ujicoba modul di anggap cukup menarik oleh Kepala desa dan warga masyarakat yang terdapat di masing-masing desa. Karena dengan  adanya kegiatan ujicoba ini maka kesimpangsiuran terkait informasi JKN dapat memberikan pencerahan bagi warga desa setempat.

Tidak banyak kedala  yang dialami oleh tim ketka melakukan ujicoba,  hanya saja waktu yang tersedia bagi masyarakat yang membuat masing-masing tahapan perlu disesuaikan dengan waktu yang tersedia di masyarakat. sebagian besar tahapan terutama di desa dilaksanakan pada waktu malam hari. namun hal ini tidak menjadi kendala bagi fasilitator karena jarak desa dengan penginapan relatif dekat.

Banyak pembelajaran yang  dapat dipetik dari kegiatan Ujicoba Modul tersebut, hal ini terungkap saat melakukan review refleksi antar tim dan supervisor. beberapa pembelajaran yang dimaksud adalah antara lain:

Panduan
Panduan Prepilot sederhana, lengkap dan mudah dipahami. Pernyataan ini disampaikan oleh fasilitator. Bahkan Adit, sebagai fasilitator baru menyatakan cukup nyaman menggunakan panduan tersebut.

Form Fasilitator
Secara umum, Form Fasilitator mudah dipahami dan fasilitator tidak menemukan kendala berarti dalam mengisi, kecuali Form Daftar Hadir dan Form Pendaftaran Kader. dan Berbagai pertanyaan tidak tersedia pilihan jawaban dalam form sehingga tidak dapat diisikan, misalnya pertanyaan tentang pelayanan JKN, pengalaman berobat, proses rujukan. Sebaiknya berbagai pertanyaan yang banyak muncul diakomodir dalam form.

Media Sosialisasi

  • Poster yang tersedia kurang mendukung jika digunakan sebagai media sosialisasi pada pertemuan tokoh dan pertemuan masyarakat. Ukuran huruf dan kotak informasi pertemuan pada poster kecil dan tidak terbaca dari jarak jauh.
  • Untuk menyiasati keterbatasan poster, sebaiknya fasilitator menyalin isi poster ke dalam flipchart sehingga layak menjadi media diskusi.
  • Diperlukan tambahan poster ‘ajakan mendaftar JKN’ yang berisi informasi pelayanan pendaftaran untuk desa dengan perlakuan outreach.
  • Pada spanduk pendaftaran JKN perlu ditambahkan informasi waktu dan tempat pelayanan.

Rencana Selanjutnya

  • Sebelum pelaksanaan pilot di 3 propinsi, metode sosialisasi dan panduan perlu direvisi dan diujicobakan dalam prepilot-2. Propinsi Sumatera Utara menjadi pilihan untuk lokasi prepilot-2 yang pelaksanaannya direncanakan pada awal bula Desember 2014. Galam pelaksanaan prepilot-2 harus mempertimbangkan kesibukan warga menghadapi perayaan hari Natal dan tahun baru 2015.
  • Pertemuan tim Mitra Samya dan Tim JPAL berikutnya akan dilaksanakan di Mataram pada minggu terakhir Nopember 2014.
  • Usulah perbaikan tahapan proses :
    OPSI-1 ; total 5 kali pertemuan, sebagai berikut :
    1. Koordinasi kepala desa
    2. Pertemuan tokoh
    3. Pertemuan kader-kader di masyarakat untuk menginformasikan kesempatan menjadi kader JKN. Peserta pertemuan bisa mendaftar saat itu juga atau hadir di salah satu pertemuan warga
    4. Pertemuan masyarakat di 2 tempat berbeda (tidak di kantor desa)  mayoritas PBPU
    OPSI-2  total 5 kali pertemuan, sebagai berikut :
    Pertemuan masyarakat di 2 tempat berbeda akan menghasilkan kandidat kader, sehingga tidak perlu dilakukan pertemuan kader. Harus dipastikan warga yang berpotensi menjadi kader diundang dalam pertemuan warga.

Berangkat dari berbagai pembelajaran yang diperoleh dari kegiatan prepilot, beberapa catatan yang disarankan untuk perbaikan, sebagai berikut :

  •  Perlu batasan yang lebih tegas antara jenis informasi Wajib Mendaftar JKN dengan Pendaftaran JKN Terbuka. Dalam panduan perbedaan tersebut hanya pada closing statement saat pertemuan tokoh dan pertemuan masyarakat. Demikian pula halnya dengan media poster dan leaflet yang digunakan, hanya dibedakan dengan tambahan tulisan WAJIB pada media untuk desa dengan pendekatan wajib mendaftar.
  • Perbedaan tersebut bisa dimulai pada kegiatan sosialisi. Informasi pendaftaran wajib bisa dimulai dengan penjelasan tentang Undang-undang SJSN yang mewajibkan warga Indonesia menjadi peserta JKN. Sedangkan pada pendaftaran terbuka bisa dimulai dengan penjelasan tentang gotong royong untuk biaya kesehatan. Closing statement tetap seperti apa yang sudah direncanakan sebelumnya. Perbedaan ini sebaiknya juga dimunculkan dalam poster dengan bahasa yang menarik, sederhana dan provokatif dengan tulisan besar sehingga terbaca dari jarak yang cukup jauh.
  • Pada prepilot, belum semua warga menerima informasi tentang kegiatan sosialisasi JKN. Agar informasi tentang JKN maupun kegiatan sosialisasi diketahui oleh lebih banyak warga, perlu dibangun strategi komunikasi yang lebih luas, misalnya dengan mengumumkan melalui mesjid atau tempat ibadah lainnya atau saluran komunikasi lain yang dimiliki warga seperti radio komunitas dll. berbagai informasi tentang JKN dan informasi kegiatan, termasuk kesepakatan yang telah dicapai dalam pertemuan/kegiatan sebelumnya. Strategi ini juga diharapkan bisa menarik lebih banyak warga untuk mendaftar sebagai kader dan mendatangi tempat pelayanan pendaftaran JKN.
  • Perlu penjelasan lebih jauh tentang jenis komisi dan implementasinya. Misalnya, jika komisi kejutan akan mendapatkan komisi sebesar 50.000 + 4% dari total premi warga desa pada bulan yang bersangkutan, sedangkan komisi kinerja akan mendapatkan komisi sebesar 4% dari total premi warga desa pada bulan yang bersangkutan + 50.000 per bulan. Selain pengertian yang disampaikan pada pertemuan dan poster, kedua jenis komisi ini tidak memiliki perbedaan. Jika tujuannya hanya untuk menarik calon kader strategi ini sudah cukup memadai, namun tidak bisa digunakan untuk menilai apakah jenis komisi beperngaruh pada peningkatan kinerja kader

Dengan adanya kegiatan studi ini  mudah-mudahan membuka informasi yang seluas-luasnya antara BPJS dan Konsumennya guna memperbaiki layanan bagi warga masyarakat.

Salam Kontributor

J_dz

By Mitra Samya

STUDI JKN (JAMINAN KESEHATAN NASIONAL)

A. Latar Belakang
UU No. 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan UU No. 24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) menjelaskan rancangan menuju terbentuknya sistem jaminan sosial semesta di Indonesia. Tujuan utama UU tersebut antara lain adalah tercapainya kepesertaan semesta jaminan kesehatan melalui skema wajib asuransi kesehatan pemerintah—Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). JKN diluncurkan Januari 2014 dengan target mencapai kepesertaan semesta di tahun 2019.
Jenis kepesertaan JKN seseorang ditentukan oleh status pekerjaan dan pendapatannya. Pemerintah menanggung premi asuransi warga miskin dan rentan miskin, sementara premi pekerja sektor formal ditanggung bersama oleh pekerja dan pemberi kerja. Kendala yang paling berat adalah pendaftaran dan keberlanjutan kepesertaan pekerja mampu di sektor informal, yang harus mendaftar dan membayar iuran sendiri dan keluarganya.

Untuk memberikan informasi secara mendalam kepada warga masyarakat sasaran maka Mitra Samya bersama JPAL bekerjasama dengan BPJS JKN diberikan peran untuk melakukan studi guna memmberikan informasi untuk meningkatkan kepesertaan JKN.

B. Pelaksanaan Studi

Sebagai proses awal Mitra Samya mendisain metodologi “SOSIALISASI TAMBAHAN ” untuk rumah tangga sasaran dengan 4 perlakuan utama yaitu WAJIB vs TERBUKA, ADANYA PELAYANAN vs TANPA PELAYANAN DI DESA, ADA KADER vs TANPA KADER DI DESA dan BONUS BAGI KADER vs TANPA BONUS BAGI KADER DESA

Guna mendapat masukan dan gambaran terkait degan Modul Sosialisasi Tambahan, kemudian Modul tersebut diujicobakan di 4 desa yang terdapat di Kecamatan Sidayu Kabupaten Gresik -Jawa Timur. 4 (empat) desa tersebut menerapkan kombinasi metode/pendekatan yang berbeda.

C. Hasil Ujicoba

Penerapan metode di 4 desa berjalan dengan lancar karena semua proses yang terdapat dalam modul dapat dilaksanakan oleh fasilitator. Mulai dari Koordinasi di Tingkat Kabupaten sampai dengan pertemuan tingkat warga masyarakat di masing-masing desa.

Dari proses ujicoba metodolgi dilapangan didapat beberapa pembelajaran saat melakukan review refleksi. beberapa pembelajaran tersebut antara lain:

a). Panduan
Panduan Prepilot sederhana, lengkap dan mudah dipahami. Pernyataan ini disampaikan oleh fasilitator. Bahkan Adit, sebagai fasilitator baru menyatakan cukup nyaman menggunakan panduan tersebut.
b). Form Fasilitator
 Secara umum, Form Fasilitator mudah dipahami dan fasilitator tidak menemukan kendala berarti dalam mengisi, kecuali Form Daftar Hadir dan Form Pendaftaran Kader.
 Berbagai pertanyaan tidak tersedia pilihan jawaban dalam form sehingga tidak dapat diisikan, misalnya pertanyaan tentang pelayanan JKN, pengalaman berobat, proses rujukan. Sebaiknya berbagai pertanyaan yang banyak muncul diakomodir dalam form.

c). Media Sosialisasi
 Poster yang tersedia kurang mendukung jika digunakan sebagai media sosialisasi pada pertemuan tokoh dan pertemuan masyarakat. Ukuran huruf dan kotak informasi pertemuan pada poster kecil dan tidak terbaca dari jarak jauh.
 Untuk menyiasati keterbatasan poster, sebaiknya fasilitator menyalin isi poster ke dalam flipchart sehingga layak menjadi media diskusi.
 Diperlukan tambahan poster ‘ajakan mendaftar JKN’ yang berisi informasi pelayanan pendaftaran untuk desa dengan perlakuan outreach.
 Pada spanduk pendaftaran JKN perlu ditambahkan informasi waktu dan tempat pelayanan.
d). Rencana Selanjutnya
 Sebelum pelaksanaan pilot di 3 propinsi, metode sosialisasi dan panduan perlu direvisi dan diujicobakan dalam prepilot-2. Propinsi Sumatera Utara menjadi pilihan untuk lokasi prepilot-2 yang pelaksanaannya direncanakan pada awal bula Desember 2014. Galam pelaksanaan prepilot-2 harus mempertimbangkan kesibukan warga menghadapi perayaan hari Natal dan tahun baru 2015.
 Pertemuan tim Mitra Samya dan Tim JPAL berikutnya akan dilaksanakan di Mataram pada minggu terakhir Nopember 2014.
 Usulah perbaikan tahapan proses :
OPSI-1  total 5 kali pertemuan, sebagai berikut :
 Koordinasi kepala desa
 Pertemuan tokoh
 Pertemuan kader-kader di masyarakat untuk menginformasikan kesempatan menjadi kader JKN. Peserta pertemuan bisa mendaftar saat itu juga atau hadir di salah satu pertemuan warga
 Pertemuan masyarakat di 2 tempat berbeda (tidak di kantor desa)  mayoritas PBPU
OPSI-2  total 5 kali pertemuan, sebagai berikut :
 Pertemuan masyarakat di 2 tempat berbeda akan menghasilkan kandidat kader, sehingga tidak perlu dilakukan pertemuan kader. Harus dipastikan warga yang berpotensi menjadi kader diundang dalam pertemuan warga

Demikian dan salam Kontributor

J_dz

By Mitra Samya

Summary Report STBM Muntigunung

Executive Summary
STBM Pilot Program Phase 3, 10 Groups in
Village West Tianyar Kubu Sub district, Karangasem regency

A. Background
Once of the VZK intervention at West Tianyar village Kubu sub district, Karangasem district related in health sector is STBM. It’s application in 4 dusun are Muntigunung Induk, Muntigunung Tengah, Muntigunung Barat and Muntigunung Timur. The population the of 4 dusun (1154 families representing a total population of 5319 inhabitants – spread over 36 groups)
The behaviour hygiene practices by Muntigunung community very low and environmental sanitation is still very bad. The community who have a safe sanitation facilities are very limited in number. The community defecate outdoors are habits. The knowledge of how germs can be transported from human feces to mouth (the contamination) has not become general knowledge in the community
To start the campaign and encourage behavioral change in hygiene and sanitation as an effort to improve public health, since 2011 VZK / YMDA develop sanitation pilot program with STBM approach (Community-Base Total Sanitation) in collaboration with Mitra Samya. This approach was chosen because the triggering strategies to change people’s behavior proved more effective at this time. Pilot program will focus on changing the behavior of community defecate in outdoors with a systematic approach triggers which means subsidies (hardware) is minimized.
The pilot program began in November 2011, this program aims to:
(1) to introduce behavior changes in terms of hygiene and sanitation to the community, (2)
, identify cultural and environmental constraints toward behavior change in order to improve STBM approach to be applied in the whole group at Muntigunung, (3) reach a free condition of defecation (outdoors defecation free-ODF) in the pilot group and
(4) identify natural leaders in the health aspects of the pilot communities.
First-year pilot program, conducted in 3 groups: Cangkeng, kulkul 1 and kulkul-2. The three groups have had a social structure that can assist the process of motivation, the chairman of the group and some of the community leaders also have to have good motivation to make changes in the community in order to improve health level of community.
The STBM program application in 2013 is the implementation ptogram STBM phase 2. The number of groups that have been committed in phase 2 to implement the program STBM in the group are 10 group. Only at this stage there are three groups that are committed to become the location of STBM application in the group even though the group did not set out in the community workshops.
While the implementation of STBM program in 2014 is 3rd phase (third). STBM program 2014 applied in 10 largest groups at 4 hamlets. The groups are TEGAL SUCI, DESA, ASAH, BAISSENJUNG, KELUMPU, BATU BULEH 2, TEGENTEGENAN, NYELINTI KELOD, NYELINTI KAJE AND TUKAD LENGKUAS
The number of groups that have been triggered by Facilitator STBM program in Muntigunung are 8 groups. The Eight group ARE; TEGAL SUCI, DESA,ASAH, BAISSENJUNG, KELUMPU, BATU BULEH 2, TEGENTEGENAN, NYELINTI KELOD while 2 groups that have triggered is NYELINTI KAJE AND TUKAD LENGKUAS. The reason of Facilitator up to now have not trigger cause no perfect time to collect the community caused most of the community working outside the village although temporary only
B. Some of the agenda of activities that have been implemented in the 3rd phase STBM program, among others:
The Name Of Activities Implementation Place Participant Output
A. Preparation
• Strategy triggers development February 2014 Muntigunung Mitra Samya, Puskesmas Team Design triggers development; Draft Technical Details; The draft curriculum and modules capacity strengthening
• Modification and development of modules for the implementation of activities in 10 groups March 2014 Puskesmas Kubu Puskesmas Kubu Team, Facilitator The curriculum and training modules mativator also triggers available and prepared it depend on implementation STBM program experience before.
• The communication to the Health Department to obtain formal support March 2014 Health Department Karang Asem and Puskesmas Kubu Husnuzzonni, Desi Sumartiningsih, Shauqi Akbar Support for the STBM implementation phase 3 in Muntigunung area.
B. TRAINING-1 AND TRIGGERS AND CTPS
• Motivator Training March 2014 Demplot VZK – Dusun Muntigunung Cadre, Facilitator, Mitra Samya Consultant, Sanitation Committee Increase the knowledge attitudes and skills related to the role of motivator and function.
• Cadre Training for triggers in the community (Triggers Training) April 2014 Balai Banjar Muntigunung Induk Cadre of 10 groups, Puskesmas Kubu, Facilitator , Sanitation Committee Increase Facilitator and Cadre knowledge, skill pengetahuan , in CLTS methode to conduct in society triggering.
• Field site Practice in 1 group April 2014 Tegal Suci group Cadre, Facilitator and puskesmas Kubu, Sanitation Committee The participants can try to triggers in one group on practice location.
• Triggering in 8 groups May au to August 2014 Each Groups The group of man (Father) and women (Mother) group, Sanitation Committee, Puskesmas Kubu The community commitment awakening, especially fathers and mothers to build simple sanitation facilities that have been set in the schedule
• CTPS Training August 2014 5 groups have been triggers Puskesmas Kubu, Facilitator, Sanitation Committee Increase the knowledge related to how to hand washing.
C. TRAINING II SANITATION LADDER (OPTION) AND MONITORING VERIFICATION
• Training OPTION Sanitation and monitoring verification 15-16 October 2023 Balai Banjar Dusun Muntigunung Facilitator Puskesmas Kubu, Motivator , Team Trainer Mitra Samya • Increase the knowledge and skills related motivators and facilitators in community sanitation options.
• The participants increase the understanding how to monitoring and verification.
• Field Site practice for monitoring dan verification 16 October 2014 Group Asah Facilitator Puskesmas Kubu, Motivator , Trainer Mitra Samya Team The Participants more competent to perform monitoring and verification in latrines progress.
• Monitoring the progress of latrines construction November – December 2014 8 groups Facilitator and Puskesmas Kubu, Identification of the group’s progress in facilities sanitation construction facilities.
C. Facts And Change
The Facts and changes that occur during the process, especially motivator and facilitator quite a lot, this case supported by participatory learning process and encourage the community to discuss their life personally. Learning opportunities to increase the capacity as a motivator/cadre in community continue to developed such as give opportunity for all communities try to presentation in front communities. Is good to encourage community in participate much better. Also during the training too, many changes experienced by participants, among others:
• Some of the material present while the training can be absorbed by participants / motivator because the methods used appropriate and easily understood by the participants.
• Some of participants, especially from the communities feel proud in triggers training involved and a lot of knowledge that can be applied in the community the results of the training.
• The involvement of Puskesmas increase, beside Ibu Desi there are more Puskesmas staff who actively assist in the process technical assistance in the community.
• Beberapa peserta menjadi optimis setelah melakukan proses dilapangan dan melihat antusias masyarakat dalam menerima program kesehatan ini akhirnya mendapat keyakinan untuk keberhasilan program STBM dimas yang akan datang. Some of the participants became optimistic after making processes in the field and saw the enthusiastic of communities to receive health program, finally confidence to success of the next STBM dimas program.
• Beside the skills, experience and new sciences, for example, strategy motivation and facilitate the communities to change their behavior on self-consciousness of the community themselves.
• Increasing understanding of motivators and facilitators related to the role and function as a community mobilizer. The Functions and roles carried out during as motivator in their each groups.
D. Lesson Learn in Program
Besides that changes that occurred some lessons learn that can be learned from STBM pilot program especially for facilitators and motivator. Some learning more appearance during the process, among others;
 Open attitude study effort to be main attraction of learning, especially for the motivator. Forward participation of community the key success in similarity perception and capacity cadre / motivator
 The Process of learning experiences forward and success stories in the community turned out make participants enthusiastic in following the training process
 The initiative emergence and efforts to encourage the success of the program in each groups for example using a personalized approach.
 An effort sharing in use of latrines continue to be developed to keep the environment kept clean.
 Encouraging the community to change their behavior needs long term and good approach and intensive.
 By the following directly, beside interaction developing between community and government also participants from the government can learn the technical development programs related to community-based participatory sanitation.
E. Recommendation
After program application in most groups in Muntigunung has provided lesson learn so expected to sustain and usefull and impact so it is necessary to plan a systematic effort, especially in the development of sanitation in hamlets, villages and other districts. The outcome of lesson learn STBM application in Muntigunung can be recommended several inputs such as:
 Give priority to the role of local facilitators that can assist accelerate the process of access sanitation facilities in communities and groups.
 The role of training and beneficiary regularly given to the local facilitators to provide confidence facilitator for change towards the better.
 Provide the cadre and Facilitator opportunity to give chance in every stage to facilitate in training process, motivate cadre and facilitators to assist the program in the community.
 The community response more positive, in response in the field site activities, especially triggers in the community.
 Any other social gathering regularly group with the latrine social gathering regularly system. (Tegal Suci and Kelumpu,)
 The Puskesmas Kubu staff is quantitatively more and more to become active in the triggers together in Muntigunung.
 Conduct discussions with communities with tematic meeting activities in PAD program.
 Good commitment of communities was triggered primarily to changes community behavior by group Asah chairperson.
 Motivators and Facilitators as well as the Department of Health is important to promote of successes that result / impact of the efforts that have been made in the environment or group Cangkeng
 Facilitator and motivator should strive to review-reflection and sharing of knowledge and experiences on a regular basis related to sanitation OPTIONS and strategies monitoring and verification in the other group.
 Motivator and Facilitator should seek to expand and intensify the development of programs related to another group with STBM. Improving the approach according to their experience and the evolving dynamics
 The Facilitator should continue strive to provide assistance so that the results of community triggering can be sustainable.
 Emergence of community initiatives to develop patterns of social gathering group can be an example to develop future programs on different groups to build a healthy latrine.
F. Planning in The Future
 Verification of several groups that will ODF by facilitators and Puskesmas.
 In January there will be some groups will perform ODF (PLASTIC BAGS, MIING, PENDEM KAJE, PILAH MEGANTUNG, CANGKENG, EMBAKAN LINGGAH
 Make an approach use several terms in religion and customs in order to trigger the community.
 Workshop in 4 hamlets to inform the achievements and triggers location determination and build commitment to support STBM activity phase 4 (four)
 Triggers in 2 groups: Tukad Lengkuas and Nyelinti Kaje.
By Mitra Samya

Program CLTS Muntigunung

CLTS (Community Led Total Sanitation) Program Pencontohan di Muntigunung, Karang Asem, Bali

Dusun Muntigunung, (1154 keluarga mewakili total populasi 5.319 – terdiri dari  35 kelompok), merupakan bagian dari Desa Tianjar Barat, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem di bagian timur utara Bali. Daerah ini mencakup 28 km² di ketinggian antara 200 dan 800 meter di atas permukaan laut. Dataran yang berkontur dan ngarai kecil membuat sulit untuk menyeberang dari satu Kelompok ke kelompok yang lain. 13 dari 35 desa tidak dapat dicapai dengan kendaraan melainkan harus berjalan kaki.

Praktek perilaku kebersihan oleh masyarakat Muntigunung sangat rendah dan sanitasi lingkungannya juga masih sangat buruk. Tak satu pun dari keluarga di kelompok percontohan memiliki fasilitas sanitasi yang aman. Buang air besar terbuka masih merupakan praktek umum oleh masyarakat. Perilaku buang air besar terbuka yang telah menjadi kebiasaan sejak dulu telah membuat masyarakat kehilangan perasaan malu dan menjijikkan. Pengetahuan tentang bagaimana kuman bisa diangkut dari kotoran ke mulut makanan dan manusia (rute kontaminasi) belum menjadi pengetahuan umum di masyarakat pada saat ini.

Continue reading

By Mitra Samya
Aside

TAPAK-TAPAK AWAL DARI RENCANA PERJALANAN PANJANG

(Catatan Kegiatan Mitra Samya dan Masyarakat di Kawasan Mareje Bonga*)

Mengapa Mitra Samya ada di kawasan Mareje Bonga

Kawasan Mareje-Bonga adalah kawasan hutan seluas 3.300 Ha yang berada di bagian selatan Kabupaten Lombok Tengah Propinsi Nusa Tenggara Barat yang meliputi 3 wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Praya Barat Daya di ujung barat, Kecamatan Praya Barat di bagian tengah dan Kecamatan Pujut di ujung timur.
Ada 13 wilayah desa yang berbatasan langsung dengan desa kawasan ini yaitu Desa Batu Jangkih, Montong Sapah, Montong Ajan, Kabul dan Pandan Indah (Kecamatan Praya Barat Daya), Desa Bonder, Mangkung, Kateng, Banyu Urip, Mekarsari dan Selong Belanak (Kecamatan Praya Barat) serta Desa Tumpak dan Pengembur (Kecamatan Pujut).

Continue reading

TAPAK-TAPAK AWAL DARI RENCANA PERJALANAN PANJANG

By Mitra Samya